Pengelolaan usaha di masa
lalu sangat berbeda dengan di era digital saat ini. Di masa lalu, pasar relatif
stabil, kompetisi hanya dari pelaku usaha sejenis dan tuntutan pelanggan tidak
banyak. Misalnya, perusahaan telekomunikasi utamanya hanya menjual connectivity, perusahaan migas menjual minyak dan gas,
bank menjual layanan saving & investment, yang sifatnya relatif stabil
dari masa ke masa. Yang cukup berbeda adalah perusahaan consumer goods, yang siklus produknya singkat dan
harus selalu inovatif mengembangkan produk baru. Situasi pasar masa kini sudah
seperti pasar bisnis consumer goods. Produk dan layanan berubah sangat
cepat sehingga perusahaan harus memiliki fokus kepada pengembangan bisnis
jangka menengah/panjang disamping menjalankan bisnis jangka pendek (business as usual). Berbagai tuntutan bisnis agar
perusahaan senantiasa adaptif, responsif dan berorientasi kepada kepuasan
pelanggan. Utamanya, perusahaan harus senantiasa inovatif dalam mengembangkan
produk dan layanan baru, baik dengan mengembangkan produk/layanan di dalam
perusahaan, maupun dengan berkolaborasi dengan pihak luar perusahaan. Tuntutan
bisnis ini membutuhkan organisasi yang lincah (agile) dan SDM yang unggul.
Perusahaan harus memiliki SDM yang memiliki kompetensi tinggi di bidang teknis, softskills, leadership dan digital serta memiliki etos
kerja yang berbasis kolaborasi. Unit Human Capital Management (HCM)
merupakan tulang punggung dalam mendukung kegiatan organisasi atau perusahaan.
Ibarat mengelola klub sepakbola profesional, unit HCM merupakan backroom yang menyiapkan semua kebutuhan pemain,
sehingga para pemain hanya berkonsentrasi untuk berlatih dan bertanding di
lapangan dengan performansi yang optimal. Demikian pula, unit HCM perusahaan
perlu menyiapkan jumlah orang (Headcount) dan kompetensi
yang dibutuhkan unit bisnis, membentuk dan memelihara budaya serta semangat
juang karyawan, meningkatkan kompetensi secara terus menerus dan memberikan
remunerasi yang memadai. Dalam menjalankan tugasnya sebagai backroom perusahaan, unit HCM harus proaktif
dalam mengikuti perkembangan perusahaan, antara lain tentang strategic direction, program kerja strategis-nya dan
permasalahan operasional utama di lapangan serta kondisi eksternal perusahaan,
khususnya tentang pengelolaan Human Capital dan talent supply. Perusahaan digital
yang sudah maju, menjadi sasaran tempat kerja para profesional muda, karena
manajemennya lebih dinamis, sesuai dengan nilai-nilai yang dianut generasi muda
dan memiliki ruang untuk berinovasi. Bagaimana kita memenangkan hati para
talenta generasi millennial dan Z? Hal ini menjadi tantangan bagi pengelola HC,
apakah pengelolaannya sudah berwawasan transformasi digital atau baru casing-nya saja? Unit HCM merupakan penggerak utama (primer mover) yang menggerakkan seluruh
sendi-sendi perusahaan. Mereka harus memiliki kapabilitas organisasi yang
memadai agar mampu mendorong perubahan di semua lini organisasi. Porsi
pekerjaan unit HCM harus lebih banyak untuk hal-hal yang bersifat strategis,
sementara pekerjaan rutin dan berulang dapat di outsourcing-kan ke pihak ketiga
atau digantikan oleh mesin melalui layanan employee self-service. Untuk itu,
mereka harus memiliki Human Capital Roadmap yang berisi sasaran akhir (ultimate goals) dari pengelolaan HC dan analisis
kondisi pengelolaan HC saat ini. Adanya gap tersebut harus diatasi
dengan membuat dan menjalankan sejumlah program kerja strategis jangka pendek,
menengah dan panjang, yang dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan,
sehingga diperoleh perubahan pengelolaan HC secara berarti. Perubahan tersebut
menyangkut kepada jumlah dan kompetensi dari pengelola SDM (people), pembuatan proses bisnis yang sudah
berbasis digital (process) dan penggunaan alat digital (technology/tools) dalam bekerja. Unit HCM harus memiliki pemikir
strategis yang menjadi penentu arah kebijaksanaan HCM, mendukung kegiatan unit
bisnis dalam mengembangkan produk dan layanan, operasional atau produksi serta
meningkatkan pelayanan kepada pelanggan, memelihara talenta dan mengembangkan
kompetensi serta leadership karyawan. Oleh sebab itu, unit HCM perlu memeriksa
kondisi organisasi saat ini, apakah sudah memiliki jumlah dan kompetensi yang
unggul serta siap dikembangkan atau perlu merekrut SDM dari luar perusahaan?
Pengembangan kompetensi teknis, digital dan leadership menjadi kebutuhan utama
dan perlu dijalankan secara berkesinambungan. Proses bisnis merupakan prosedur
kerja internal unit HCM dan proses kerja dengan unit organisasi lainnya,
khususnya untuk pekerjaan yang bersifat rutin. Proses bisnis rutin mulai dari
kegiatan rekrutasi, penempatan lokasi kerja dan mutasi pegawai, pengembangan
kompetensi, promosi dan pembinaan karyawan, coaching and mentoring, talent management,
industrial relations dan administrasi HC serta terminasi
karyawan. Sebagian besar dari proses bisnis ini sudah dapat di-digitized, sehingga tidak perlu banyak orang bekerja
disana. Namun untuk pekerjaan yang bersifat inovasi dan kolaborasi, perlu
dibuat proses bisnis yang bersifat lincah (agile), tanpa melupakan fungsi
kontrol. Teknologi atau tools merupakan alat
bantu dalam mengelola HC. Di pasaran, terdapat berbagai aplikasi kerja HC untuk
perusahaan besar, menengah maupun kecil. Teknologi ini sangat membantu dalam
mengelola HC agar lebih efektif dan efisien, layanan bersifat pribadi dan dapat
meramalkan kondisi ke depan. Misalnya, aplikasi Human Capital Information System,
merupakan employee self service untuk melayani berbagai
kebutuhan pegawai, mulai dari monitoring kehadiran, ijin cuti, kesehatan dan
berbagai kebutuhan pegawai lainnya. Demikian pula terdapat berbagai aplikasi
untuk keperluan yang lebih spesifik seperti SAP Successfactor dengan
fokus kepada engagement and experiences, aplikasi Workday yang menghasilkan Financial Management, Human Capital Management and Analytics,
aplikasi BambooHR yang mengumpulkan data dan informasi
tentang employee lifecycle, untuk menghasilkan performansi
individu yang optimal. Pada umumnya unit HC perusahaan
tradisional memiliki gap yang besar untuk mencapai ultimate goals. Mereka harus
berubah dengan cara yang tidak biasa, yakni melalui transformasi digital di
seluruh aktivitas HC. Perlu komitmen yang kuat dari Direksi, Komisaris dan
pemilik perusahaan untuk menjalankan transformasi HC. Diperlukan sumber daya
uang, manusia dan teknologi untuk menghasilkan pengelolaan HC yang unggul.
Tentunya sumberdaya yang dikeluarkan harus sebanding dengan hasil yang
didapatkan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah menjalankan program kerja
transformasi secara serius, berkesinambungan dan diawasi serta dievaluasi
secara efektif. Mari kita lakukan transformasi digital dibidang HC sebagai
dukungan untuk mewujudkan digital company!
Sumber :
https://e2consulting.co.id/2021/04/12/meningkatkan-kapabilitas-organisasi-pengelola-human-capital-dengan-teknologi-digital/ |