• (024) 6723456
  • sistemkomputer@stekom.ac.id

Revolusi Industri 4.0 identik dengan pemanfaatan teknologi tingkat lanjut untuk berbagai lini bisnis, mulai dari perdagangan, finansial, hingga manufaktur. Salah satunya, implementasi sistem robotika untuk menggantikan beberapa pekerjaan yang bersifat manual. Biasanya ini diaplikasikan untuk industri dengan skala produksi yang besar. Menurut penelitian McKinsey, dari tahun ke tahun biaya untuk investasi perangkat berbasis robot juga relatif lebih terjangkau dibanding dengan biaya pekerja buruh – kendati demikian disadari masih banyak pekerjaan yang perlu peran manusia.

Melihat momentum perkembangan tersebut, Pandawa Tech sebagai startup yang fokus mengembangkan produk teknologi berbasis robotik. Startup yang telah berdiri sejak September 2017 ini telah menghasilkan berbagai jenis perangkat, satu yang menjadi andalan adalah Botang. Botang adalah robot yang digunakan untuk proses handling atau pemindahan barang; diprogram otomatis, robot tersebut dapat melakukan pengambilan sampai peletakan. Botang Mobile Industrial Robot memiliki 2 tipe yaitu “BT-100” dan “BT-200”. Penyebutan tipe didasarkan pada daya motor, BT-100 bisa menarik beban 100kg dan BT-200 sekitar 200kg (bisa juga bergerak mundur).

“Untuk melakukan proses handling menggunakan Botang, pengguna tinggal melakukan panggilan melalui client remote, maka robot secara otomatis datang untuk mengambil barang. Setelah itu pengguna dapat memposisikan troli atau barang di pengait. Setelah memastikan barang terkait dengan benar di Botang, pengguna tinggal klik destinasi dan klik tombol ‘Start’, maka Botang akan berjalan mengikuti jalur dan menuju lokasi yang telah dipilih dan ditentukan,” jelas Founder Pandawa Tech Hafidh Dody Prasetya.

Selain Hafidh sebagai founder, startup ini turut dibantu oleh dua co-founder lainnya, yakni Abdul Aziz Nurul Ikhsan dan Prajati Ananda. Ketiganya bersama bisnis yang dirintis saat ini juga tengah diinkubasi dalam program ABP Incubator di Yogyakarta. Melalui program tersebut, mereka mendapat pembinaan terkait pengembangan bisnis, kepemimpinan, hingga inovasi teknologi. Program ABP juga menawarkan kepada founder untuk dapat terhubung kepada ekosistem bisnis teknologi yang tepat, seperti mitra bisnis, regulator, hingga investor.

Proposisi nilai yang ditawarkan

Memiliki visi untuk menjadi produsen robot manufaktur berkualitas internasional, Pandawa Tech saat ini memiliki dua lini bisnis utama. Pertama adalah layanan engineering, termasuk riset dan pengembangan, untuk membantu mitra pengembangkan perangkat robotik untuk keperluan spesifik. Cakupan pengembangan termasuk pada perangkat lunak yang digunakan untuk mengoperasikan robot. Berbagai jenis produk telah dihasilkan, mulai untuk industri logistik, hiburan, perdagangan, dll. Beberapa perusahaan telah memanfaatkan solusinya, seperti Honda Lock, Yamaha, IMSS, Samsung< Lapan, Astra Visteon, dan lain-lain.

Lini bisnis berikutnya adalah penjualan komponen pendukung robotik dan industri manufaktur. Melalui kanal marketplace dan situs, Pandawa Tech menyuguhkan beragam sparepart yang biasa digunakan untuk pengembangan dan perawatan perangkat industri. Mulai dari micro-controller, circuit board, sensor & transducer, motor, pneumatic parts, solar panel, dan lain-lain. Saat ini Pandawa Tech memiliki basis bisnis di Yogyakarta dan Cikarang.

“Target selanjutnya, kami ingin memproduksi Botang secara massal. Hal ini dilakukan seiring perkembangan teknologi industri di Indonesia, khususnya untuk melayani industri manufaktur yang membutuhkan proses handling,” pungkas Hafidh.

Menurut laporan MarketsandMarkets, ukuran pasar robot industrial akan mencapai $42,2 miliar pada tahun 2021, dan terus bertumbuh sampai $75,3 miliar di tahun 2026 dengan CAGR 12,3%. Tentu ini potensi besar bagi para inovator di vertikal ini untuk mengakselerasi bisnis, khususnya dalam memenuhi permintaan dalam negeri.  Peningkatan permintaan pasar juga tidak hanya datang dari perusahaan berskala besar, riset mengungkapkan banyak usaha di tingkat kecil dan menengah mulai mengadopsi teknologi robotik untuk produksinya. Beberapa pasar utama yang disebutkan dalam riset meliputi India, Cina, Jepang, Perancis, Indonesia, dan Singapura.

Menurut data BPS, produksi jamur di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 31 juta kilogram, didominasi komoditas jamur tiram dan jamur merang. Kendati konsumsi dalam negeri belum maksimal  (0,18 kg per kapita per tahun), namun potensinya masih besar seiring dengan kreasi pangan berbahan jamur yang makin banyak diminati. Apalagi saat menimbang permintaan dari luar negeri. Prancis, Jerman, Rusia, Amerika Serikat, Timur Tengah, Korea, Tiongkok, dan Jepang adalah negara dengan konsumsi jamur yang tinggi yang layak dijadikan tujuan ekspor.

Agar momentum permintaan pasar dapat diserap optimal oleh pembudidaya dalam negeri, perlu adanya upaya peningkatan produksi. Hal ini maksudkan untuk peningkatan produksi dan konsistensi kualitas hasil panen. Termasuk memaksimalkan penggunaan alat-alat berbasis teknologi untuk menghasilkan siklus proses yang efisien.

PT Egrotek Karsa Utama (Egrotek) adalah inovator teknologi yang mencoba membantu petani jamur untuk meningkatkan produksinya. Didirikan sejak Mei 2018 di Purwokerto, layanan yang digulirkan memberi solusi untuk pengendalian kelembaban pada kumbung jamur. Biasanya hal ini dilakukan secara manual oleh pembudidaya, mereka melakukan penyiraman 2x sehari pada media tanam yang digunakan. Jika lupa atau terlambat disiram, dan kelembaban tidak terjaga dengan baik, tumbuh kembang bibit jamur akan terganggu, berimplikasi pada kualitas hasil panen.

Berbekal kapabilitas teknologi Internet of Things (IoT), Egrotek menyajikan perangkat penyiraman rumah jamur otomatis dengan nozzle sprayer. Di dalamnya termasuk program untuk pengendalian kelembaban pada rumah jamur. Pengguna dapat melakukan pengecekan secara jarak jauh melalui aplikasi di ponselnya, termasuk mengoperasikan perangkat secara jarak jauh. Secara lebih mendetail, ada beberapa fitur yang ditawarkan, meliputi:

  1. Pemantauan suhu dan kelembaban
  2. Pengaturan kelembaban minimal dan maksimal
  3. Laporan grafik suhu dan kelembaban kumbung jamur
  4. Pencatatan hasil panen

Selain lewat aplikasi, petani juga dapat mengakses melalui platform situs web melalui ponsel atau komputer.

Fitur perangkat Egrotek

Ada dua varian produk yang dijajakan, yakni Egrotek CL2200 dan Egrotek CL2400. Kedua perangkat memiliki akurasi suhu dan kelembaban yang sangat presisi untuk memberikan hasil analisis yang optimal. Perubahan suhu terkecil yang masih dapat terbaca oleh sensor sebesar 0,1 celcius dengan tingkat akurasi ± 0,5 celcius. Sedangkan sensor kelembaban memiliki resolusi 0,1 % RH dengan akurasi ± 2 % RH.

Perangkat Egrotek menggunakan jaringan GPRS untuk terhubung ke internet. Pembacaan data sensor dan penerimaan data ke server (cloud) dan automasi nozzle sprayer diproses oleh mikrokontroler ATmega32A4U dengan kecepatan clock 16 Mhz. Dapat Menampilkan informasi suhu dan kelembaban pada layar LCD 16×2 di perangkat; juga dapat dikonfigurasi menjadi mode offline maupun online. Daya yang dikonsumsi perangkat sangat hemat, hanya sebesar 1 watt untuk kontroler dan 40 watt untuk pompa penyiram.

Nozzle sprayer yang dijalankan secara otomatis oleh sistem akan berfungsi mengatur kelembaban kumbung. Ketika kelembaban di bawah standar, secara otomatis nozzle sprayer akan menghasilkan butiran embun untuk menstabilkan kelembaban. Pasokan air ke titik-titik nozzle menggunakan high presure pump dengan kapasitas 3,1 liter/menit.

Berawal dari isu nyata

Startup Egrotek didirikan oleh tiga orang founder, meliputi Sigit Pramono, Chandra Maulana, dan Alhamda Adisoka Bimantara. Awal mulanya, mereka melihat dan merasakan sendiri isu yang dihadapi pembudidaua jamur di daerah Baturaden. Butuh ketelatenan lebih untuk menjaga kelembaban dan suhu kumbung jamurnya. Dan proses ini benar-benar harus dilakukan secara rutin. Adanya automasi proses dinilai akan meringankan beban pekerjaan mereka, sehingga dapat fokus ke peningkatan skala produksi.

Untuk mematangkan bisnisnya, Egrotek saat ini juga tengah diinkubasi oleh ABP Incubator, guna mendapatkan dukungan fasilitas pengembangan, jaringan, dan kanal edukasi untuk peningkatan kompetensi pendiri.

Harapannya dengan bantuan teknologi, produksi jamur di Indonesia dapat meningkat pesat. Nilai ekspor pun dapat terus meroket. Pada tahun 2007 Indonesia masuk ke dalam 5 besar negara eksportir jamur kalengan dengan ekspor sebanyak 18.392 ton. Sementara, untuk saat ini produsen jamur terbesar masih dipegang oleh Tiongkok dengan produksi 7,7 juta ton per tahun; diikuti Italia, Amerika Serikat, Belanda, dan Polandia.


sumber :

https://dailysocial.id/wire/optimalkan-potensi-ekspor-egrotek-bantu-pembudidaya-jamur-tingkatkan-produksi-dengan-teknologi-iot

 Copyright stekom.ac.id 2018 All Right Reserved